|
Friday, 04 April 2008 |
Dalam etika pergaulan senantiasa terbukti bahwa hanya dalam harmoni yang baik, dalam skala masyarakat kecil keluarga maupun publik dan bisnis, maka rasa saling mempercayai dapat tumbuh secara langgeng. Hal itu sangat esensial, apalagi dalam keterbatasan lingkungan hidup dan upaya interaksi, serta inter-relasi dalam harmoni, respek terhadap sesama, dan tetap menghayati budaya rasa malu (shame culture) kalau sampai bertindak tanpa berperikemanusiaan. Misalnya, apa seseorang masih memiliki budaya rasa malu saat berbuta hati nurani dengan memberi karena terpaksa atau bahkan menerima uang pelicin yang termasuk tindak korupsi? Sekalipun tidak ekspilisit, semua pihak yang ingin membangun saling percaya dalam era keterbukaan masyarakat berskala kecil sampai internasional pun semakin sulit dan rumit. Hal yang seringkali menonjol adalah saling mencurigai (mutual distrust), antar-pelaku bisnis, antar-pelaku dengan birokrasi dan antar-masyarakat pasar dengan bisnis, walau dipolesi senyum simpul. Bila menelaah ke sejumlah dasar kehidupan manusia, maka langkah utamanya adalah mereformasi diri, tanpa banyak gebyar-gebyar atau publisitas polesan . Mungkinkah dari perilaku saling mencurigai membangun rangkaian saling mempercayai (from a series of distrust to a network of trust) juga dalam antar-relasi dan interaksi sisi persediaan supply side dan sisi permintaan demand side ekonomi?
|
|
Read more...
|
|
|
Sunday, 03 February 2008 |
Salah satu faktor yang membedakan krisis ekonomi 1997 dari resesi di AS adalah adanya peringatan dini sebelum tsunami krisis benar-benar merusak kestabilan perekonomian. Ketika Baht Thailand berdevaluasi tajam pada 1997 sehingga stabilitas ekonomi regional terusik, Indonesia di bawah Soeharto percaya keagungan perekonomian Indonesia yang konsisten tumbuh tinggi selama tiga dasawarsa tak bakal terusik. Wakil IMF di Jakarta saat itu, Khadim al-Eyd, bahkan mengungkapkan keyakinan bahwa Indonesia tak akan tersapu krisis karena memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Ternyata, seperti telah tertanam kuat dalam memori setiap orang Indonesia kemudian, analisis IMF itu hanya buaian yang malah menjebak Indonesia dalam kurungan krisis. Peringatan dini itu bahkan tak pernah ada, ironisnya pengetahuan bakal adanya krisis justru dimiliki para spekulan yang dengan asyik mengawut-awut perekonomian yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah dan kadang ditukar dengan pengabaian hak-hak sipil itu.
|
|
Read more...
|
|
|