| Selusin Pelajaran dari Resesi AS |
|
|
|
| Article & News - Economy | ||||
| Sunday, 03 February 2008 | ||||
Page 1 of 2 Salah satu faktor yang membedakan krisis ekonomi 1997 dari resesi di AS adalah adanya peringatan dini sebelum tsunami krisis benar-benar merusak kestabilan perekonomian.Ketika Baht Thailand berdevaluasi tajam pada 1997 sehingga stabilitas ekonomi regional terusik, Indonesia di bawah Soeharto percaya keagungan perekonomian Indonesia yang konsisten tumbuh tinggi selama tiga dasawarsa tak bakal terusik. Wakil IMF di Jakarta saat itu, Khadim al-Eyd, bahkan mengungkapkan keyakinan bahwa Indonesia tak akan tersapu krisis karena memiliki fundamental ekonomi yang kuat. Ternyata, seperti telah tertanam kuat dalam memori setiap orang Indonesia kemudian, analisis IMF itu hanya buaian yang malah menjebak Indonesia dalam kurungan krisis. Peringatan dini itu bahkan tak pernah ada, ironisnya pengetahuan bakal adanya krisis justru dimiliki para spekulan yang dengan asyik mengawut-awut perekonomian yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah dan kadang ditukar dengan pengabaian hak-hak sipil itu. Ini berbeda dengan ancaman resesi di AS di mana alarm menyalak lebih awal sebelum krisis total menghantam perekonomian. Presiden George Bush yang pada periode akhir kesinggasanaannya hanya asyik mengejar Iran, Iran, dan Iran, tersentak. Ternyata, bukan nuklir Iran, tapi miskelola ekonomilah yang mengancam AS. Diawali gagal bayarnya para pengijon kredit perumahan --subprime mortgage-- sistem keuangan AS yang terintegrasi bak anatomi tubuh manusia itu demam berat sehingga membuat dunia was-was. Para aktor keuangan segera membunyikan alarm, AS terancam resesi. Merrill Lynch dan Goldman Sachs, dua lembaga investasi ternama AS, adalah yang pertama menyalakan alarm itu. "Data terakhir menunjukkan perekonomian AS akan terperosok dalam resesi," kata para ekonom Goldman Sachs seperti dikutip AFP (9/1). Goldman Sachs dan Merril Lynch melihat eksposur dana bank yang eksesif di properti (perumahan) telah menempatkan sistem keuangan AS berada dalam kesulitan besar. "Ini adalah krisis keuangan terburuk dalam kurun 60 tahun terakhir," kata pialang ulung George Soros dalam Financial Times (22/1). Artinya, resesi ekonomi 1970-an akibat krisis energi menyusul embargo minyak Arab saja berada di bawah skala krisis keuangan sekarang. Hanya Depresi Besar 1930-an yang bisa mengaburkan spektrum kerusakan sistem keuangan AS sekarang. Kini, mekanisme swakoreksi yang disebut mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) Alan Greenspan sebagai keunikan ekonomi AS di mana bengkok-bengkok ekonomi yang timbul bisa dengan cepat diluruskan kembali, sedang bekerja mengatasi ancaman krisis. Pemerintah AS meluncurkan paket stimulus ekonomi senilai 150 miliar dolar AS agar pasar tak lagi gelisah, sementara The Fed menurunkan suku bunga secara drastis tiga basis poin. Keduanya berupaya menstimulasi mekanisme swakoreksi itu. Hanya soal waktu untuk mengetahui apakah ekonomi AS selamat dari ancaman resesi. |
||||
| < Prev |
|---|






